Kapan terakhir kita ketemu?
Kapan terakhir saya menyebutnya Bapak?
[saya tidak ingat]
dulu
saya masih cupu, memegang teguh ajaran bakti ke orang tua. dan
membelanya, menerimanya, berharap menjadi layaknya keluarnya pada
umumnya.
saya baru mengenal benar rupanya saat saya
kelas III SD. Saat itulah saya menjadi dekat dengannya. Alasanya karena
rumor. Bahwa saya anak yang paling diharapkan. Saya mempercayainya.
Awal memang begitu dekat dengan akhir. Ketika ia pergi lagi, semuanya berakhir.
tidak ada lagi kedekatan.
Berapa kali ia pergi?
Berapa kali ia kembali?
Berapa kali kita mencoba menerimanya?
Berapa kali kita mencoba menjamunya layaknya seorang kepala?
[saya tidak ingat]
yang
saya paham, terakhir dia kembali ketika kakak saya melepas masa
lajangnya. Dia sempat menjadi saksi. lepas itu, saya lupa. Apakah ia
pernah kembali lagi, atau tidak sama sekali.
pernahkah saya merindukannya?
Tidak. Sekalipun tidak pernah, saya sudah cukup besar untuk berpikir dan merasakan sesuatu.
Hanya, saya pernah merindukan memanggil seseorang dengan Bapak. [bukan bapak guru]
[Andai]... suatu saat ia kembali?
mmm..
saya tidak pernah berharap. kalau pun terjadi, saya tidak pernah tahu
akankah saya mau dan mampu memanggilnya Bapak [lagi]?
Yang jelas, adik saya pasti tidak, Sekalipun, ia tidak pernah dekat dengannya.
Entah, bagaimana kalau saya nikah nanti.? saya pernah memikirkannya, namun, hanya angin lalu.